This is an outdated version published on 2022-04-30. Read the most recent version.

Politik Ilahi: Studi Kasus Sebaran Kekuasaan Pasca Tunakisma di Desa Muara, Kabupaten Bogor

Authors

  • Widya Safitri Balai Litbang Agama Jakarta
  • Lusiana Rumintang

DOI:

https://doi.org/10.30631/tpj.v2i1.829

Keywords:

tunakisma, politik desa, stigma, kekuasaan, agama

Abstract

Abstrak

Tulisan ini mengaji sebaran dan struktur kekuasaan yang terbentuk setelah terjadinya tunakisma di Desa Muara, Kabupaten Bogor. Desa Muara mengalami tunakisma akibat dua stigma negatif yang terbentuk dari proses panjang sejarah desa. Stigma negatif tersebut menyebabkan Desa Muara berada pada posisi lemah dalam politik air antardesa pengguna aliran Sungai Cisadane. Hal itu menyebabkan Desa Muara mengalami kelangkaan air untuk irigasi sawah yang berujung pada keputusan para petani untuk menjual sawah yang mereka miliki sehingga akhirnya mereka menjadi tunakisma. Masyarakat Desa Muara merespon kondisi tunakisma dengan menyuarakan kegelisahannya melalui inward-looking communities (melihat ke dalam komunitas mereka sendiri) dan membangun struktur politik baru untuk memperebutkan sumber daya di dalam desa. Struktur politik baru yang dibangun dengan tameng relijius secara keseluruhan. Gaib dan mistik menjadi penentu individu yang berhak menguasai sumber daya tertentu untuk keberlangsungan hidup. Kondisi itu juga menimbulkan dinamika baru bagi generasi muda sebagai akibat dari internalisasi akan kekuasaan dan agama. Tulisan ini menjabarkan proses munculnya struktur politik baru di Desa Muara. Lebih jauh lagi, tulisan ini juga memaparkan temuan-temuan kejadian yang terjadi berdasarkan aktivitas warga Desa Muara dalam tatanan politik desa yang baru.

Kata Kunci: tunakisma, politik desa, stigma, kekuasaan, agama.

Abstract

This paper examines the distribution and structure of power which was formed after the occurrence of landlessnes in Muara Village, Bogor Regency. Muara Village experienced landlessness resulted from two negative stigma which was formed from a long process of the village history. The negative stigma caused the village to have weak position in water politics between villages that use the Cisadane River flow. This caused Muara Village to experience water scarcity for rice irrigation which led to the decision of the farmers to sell their rice fields so that they eventually became landless. The people of Muara Village responded to the condition of landlessness by expressing their anxiety through inward-looking communities and building new political structures to fight for resources within the village. A new political structure built with general religious mask. Magic and mystics determined the individual who has the right to control certain resources for survival. This condition also created new dynamics for the younger generation as a result of the internalization of power and religion. This paper describes the process of the emergence of a new political structure in Muara Village. Furthermore, this paper also explaines the findings of events that occurred based on the activities of the residents of Muara Village in the new village political order.

Keywords: landless, village politics, stigma, power, religion.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Biro Pusat Statistik. (1994). Statistik Indonesia 1993. Jakarta. Biro Pusat Statistik.
Emmerson, D. K. (1995). Region and recalcitrance: rethinking democracy through Southeast Asia. The Pacific Review, 8(2), 223-248.
Fadoli, A. (2002). Perlawanan sehari-hari tunakisma korban penggusuran terhadap dominasi kekuasaan negara, kontraktor dan elit lokal .Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada.
Farid, M., & Sos, M. (2018). Fenomenologi: Dalam Penelitian Ilmu Sosial. Prenada Media.
Kuswarno, Engkus. (2008). Etnografi Komunikasi, Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung : Widya Padjadjaran. hal 22-24
Liang, Y., & Li, S. (2014). Landless female peasants living in resettlement residential areas in China have poorer quality of life than males: results from a household study in the Yangtze River Delta region. Health and quality of life outcomes, 12(1), 1-17.
Payne, Malcom. 2016. Teori Pekerjaan Sosial Modern. Edisi ke 4, BPSW Indonesia. DI Yogyakarta. Penerbit Samudra Biru.
Ritzer, George. (2012). Teori Sosiologi: dari Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Roncoli, C., Jost, C., Kirshen, P., Sanon, M., Ingram, K. T., Woodin, M., ... & Hoogenboom, G. (2009). From accessing to assessing forecasts: an end-to-end study of participatory climate forecast dissemination in Burkina Faso (West Africa). Climatic Change, 92(3), 433-460.
Safitri, W., Afiff, S. A., & Purwanto, S. A. (2018). Hilangnya tutug uyah (suka cita panen): studi kasus tunakisma pada petani Desa Muara= Loss of tutug uyah (joy of harvest): case study of tunakisma (landless) on farmers in Muara Village. Universitas Indonesia.
Saragih, I., & Susanto, D. (2006). Petani Tunakisma. Jurnal Penyuluhan, 2(2).

Downloads

Published

2022-04-30

Versions